FIKSI & DIARY

Terus Hebatnya Dimana?

 

Dulu, semasa saya masih SD-SMA, saya masih sering terlalu berbahagia ketika mencapai rangking satu, juara ini itu dan sebagainya. Seolah itu merupakan satu bentuk pernyataan diri betapa dahsyatnya kemampuan diri ini. Saat itu, saya seolah berubah menjadi salah seorang maharaja yang patut dihormati oleh semua orang seluruh dunia.

Kemudian ketika saya kuliah, saya pelan-pelan menyadari dan mempertanyakan pada diri sendiri, di mana hebatnya pencapaian di masa lalu itu? Toh masih banyak manusia lain yang mencapai tataran yang jauh lebih dahsyat ketimbang yang pernah saya capai. Kenyataannya, ketika kuliah sayapun menjadi “bukan siapa-siapa”.

Saya menjadi tercenung dan malu luar biasa.¬†Bahkan, saya mulai merasa menjadi manusia yang tidak pernah mampu menyadari kelemahan diri dan mencoba untuk berani mengakui betapa banyak kelemahan yang melekat pada diri ini. Betapa sombongnya “Priyo Kecil” di waktu itu. Setelah lulus dengan susah payah, dan menjadi pengangguran sekian lama, saya mulai paham bahwa betapa “ecek-eceknya” diri saya saat itu.¬†

Setelah bekerja, saya kemudian melanjutkan studi ke S2. Apa kemudian yang saya temukan? Saya kembali semakin banyak menemukan jati diri bahwa saya tidak ada apa-apanya dibanding yang lain. Saya mulai merasa minder dan membatasi diri untuk bergaul dengan teman-teman yang lain.

 

Pages: 1 2

 

TERPOPULER

Copyright © 2017 - Analisis.id

To Top