FAKTA & PERISTIWA

Tamparan Dahsyat Praktik PTS Abal-Abal

 

Praktik jual beli ijazah di Indonesia bukan hal yang baru. Maraknya praktik tersebut mendorong Kementerian Riset dan Teknologi melakukan aksi dengan menutup (menonaktifkan) 243 kampus tahun ini. Praktik tidak sehat dalam penyelenggaraan pendidikan, tentu menjadi tamparan dahsyat atas kualitas pendidikan di negeri ini.

Ada beberapa kasus sehingga kampus-kampus tersebut ditutup. Ada yang memang secara nyata melakukan praktik jual beli ijazah, ada pula yang ditutup karena terjadi pelanggaran praktik akademik. Seperti masalah rasio dosen mahasiswa, penyelenggaraan kelas Sabtu-Minggu, mahasiswa over kuota, konflik internal, laporan akademik, dosen ganda, dll. Kampus yang memperoleh sanksi Kemenristek tentu tidak boleh menerima mahasiswa baru untuk tahun ajaran baru. Selain itu PTS tersebut tidak boleh menyelenggarakan wisuda, dan tentu saja tidak mendapat layanan Ditjen Dikti.

Meskipun sebenarnya bukan kasus baru, akan tetapi penutupan 243 kampus PTS yang melakukan praktik tidak sehat ini sangat memprihatinkan. Mungkin bagi pihak tertentu seperti orang yang ingin secara mudah mendapat ijasah praktik tersebut menguntungkan. Namun bagi pihak yang ingin menjaga kualitas pendidikan negeri ini praktik ini sangat merugikan. Bagi calon mahasiswa atau mahasiswa yang telah terdaftar dalam kampus tersebut tentu sangat dirugikan karena kehilangan investasi waktu dan uangnya.

Bagi penyelenggara perguruan tinggi swasta (PTS), ataupun yayasan yang menaungi PTS, kondisi ini harus menjadi pelajaran berharga bahwa PTS yang didirikan harus dikembalikan pada tujuan mulia untuk ikut berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Alih-alih ingin mengangkat martabat bangsa melalui pendidikan, justru terjebak praktik yang tidak sehat karena mengedepankan aspek bisnis pendidikan yang tidak sehat.

 
loading...
 
KOMENTAR ANDA

TERPOPULER

Copyright © 2017 - Analisis.id

To Top