FIKSI & DIARY

Kangen Dumbeg Kebonagung

 

Dulu, semasa saya masih SMA, Kebonagung adalah salah satu jujugan saya ketika sedekah desa. Saya bersama Saudara saya dik Yuli, suka bermain ke rumah Bambang (teman SMP Dik Yuli), Anak pak Lurah Kebonagung (Mbencili).

Di sana, saya masih teringat aroma legen yang dimasak untuk dijadikan gula merah, dan legitnya suguhan Dumbeg yang beraroma khas bungkusnya yang bersal dari daun lontar (Daun Siwalan).

Salah satu yang sangat saya ingat sampai sekarang, adalah ketika Bambang sempat patah tangannya ketika bal-balan Tarkam melawan klub Sepetik dari kampung saya. Gara-gara bertabrakan ketika berebut bola dengan Maharas bek kiri Sepetik, dan terjatuh, sehingga tangann kananya patah. Kejadian itu sempat membuat saya prihatin tidak dapat tidur beberapa hari.

Kembali lagi ke Dumbeg. Makanan khas ini sebenarnya bukan monopoli daerah Rembang, namun sekitarnya juga memiliki caranya masing-masing dengan bahan khusus mereka masing-masing pula. Namun, untuk Dumbeg Kebonagung, menurut saya sampai dengan saat ini adalah Dumbeg terbaik yang pernah saya makan.

Bukan sekedar karena saya disuguhi gratisan di sana waktu sedekah desa, namun yng jelas rasa Dumbeg Kebonagung (Mbencili) tersebut masih terbayang dalam ingatan saya sampai sekarang.

Sumber Gambar: birohumas.jatengprov.go.id

 
 

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan Analisis.id. Dilarang berkomentar berbau iklan, pornografi, pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Analisis.id berhak untuk menghapus kata-kata yang berbau iklan, pornografi, pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan.

TERKINI

Copyright © 2017 - Analisis.id

To Top