ANALISIS

Tidak Ada Milisi Moderat di Suriah?

 

Melanjutkan hipotesis tentang Mitologi Pemberontak Moderat, kemarin tidak ada hujan tidak ada angin,  tiba-tiba ada perubahan nama oleh Jabhat Al-Nusra, cabang  Al-Qaeda Suriah, dengan nama baru: “Jabhat Fateh al-Sham”. *Pengubahan nama ini patut dicurigai sebagai strategi pengelebauan untuk seolah-olah menunjukkan niat baik Jabhat al Nusra untuk menjauhkan diri dari induknya Al-Qaeda. padahal, ini adalah pengelabuan yang transparan, karena faktanya pengubahan nama ini mendapatkan restu langsung dari Ayman Al-Zawahiri, pemimpin utama Al-Qaeda.

Pertanyaannya adalah, apakah Barat benar-benar sukses terkelabui? Jelas intel atau media Barat tidak segoblok itu. Mereka sengaja melakukan pembiaran, agar ada bahan untuk berdalih bahwa di Suriah benar-benar ada pemberontak yang moderat, demokratis, dan nasionalis. itu jelas harus didukung oleh Barat sang dewa demokrasi.

Bagi media Barat, ada konsumsi berita yang mudah dijual ke pasar media mereka tentang konflik Suriah. Itu adalah kenyataan bad news bagi Suriah, yang tiba-tiba bisa diubah menjadi good news yang layak jual ke pasar media. Bagi para politis Barat, jelas pemberontakan itu adalah salah satu sarana bagus untuk meluncurkan kepentingan geopolitik mereka. Apalagi dengan terlibatnya Rusia ke dalam konflik Suriah.

Kondisi dan kenyataan sebenarnya di lapangan adalah mereka adalah pejuang yang didominasi oleh milisi impor. Mereka bisa saja menyebut diri mereka “Tentara Pembebasan Suriah ( FSA)”‘ “Ahrar Al Sham”, “jaish al Sunah”, “Jaish Al Islam”, “jaish al Sham” atau segudang nama lain, namun ujung-ujungnya hanya menunjukkan jejak faksi yang berafiliasi dengan Al-Qaeda Suriah, jabhat Al Nusra (Jabhat Fateh al-Sham) yang berkoalisi dengan nama Jaysh Al-Fateh (Army of Conquest).

Banyak dari anggota milisi mereka (bahkan dominan) adalah milisi yang mengalir ke Suriah dari Turki dan didanai oleh negara-negara Teluk untuk melakukan agresi terhadap Suriah (lebih tepatnya merupakan anggota dari Proxy Army negara tertentu). Galibnya, para petarungnya sendiri diantara mereka sering berpindah atau bertukar atau berpindah kelompok. Pada kenyataannya itu selalu dilakukan oleh kelompok orang yang relatif ber-ideologi sama/sejenis dan sering menyebut diri mereka dengan nama-nama kelompok yang berbeda.

Mayoritas pejuang sebenarnya yang berperang melawan pemerintah Suriah di Suriah adalah dan selalu berideologi wahabi Salafi. Hal ini telah tejadi sejak awal perang pada tahun 2012 ketika pemberontak menyerbu Aleppo dan Damaskus. Adapun demonstrasi tahun 2011 yang mengawali perang, mereka bukanlah sedamai sebagaimana yang sering diklaim oleh mereka dan media Barat. para demonstran banyak di domonasi oleh para individu yang berideologi wahabi Salafi, sebagian lainnya adalah kelompok yang didominasi oleh Ikhwanul Muslimin, meskipun beberapa bagian dari oposisi kiri non-sektarian juga awalnya terlibat dalam gerakan anti Assad, namun entahlah sekarang mereka pada kemana.

Jangan-jangan, hipotesis bahwa pemberontak Moderat di Suriah adalah mitos benar-benar didukung bukti yang vaild serta signifikan.

Sumber Gambar: ibtimes.com

 
loading...
 

TERPOPULER

Copyright © 2017 - Analisis.id

To Top