ANALISIS

Ironi Parlemen AS Mengenai Saudi

 

Untuk pertama kalinya dalam tujuh setengah tahun dalam masa kepresidenan Obama, lembaga legislatif mampu mengesampingkan veto presiden kemarin, dan memaksa Gedung Putih untuk menerapkan Justice Against Sponsors of Terrorism Act (JASTA), yang memfalitasi keluarga korban serangan 9/11 untuk membawa pemerintah asing ke pengadilan jika mereka memiliki kecurigaan bahwa pemerintah asing bersangkutan telah membantu atau mendukung serangan.

Senat memutuskan dengan skor telak 97-1, dan menjungkalkan veto Obama pada Jasta. Sementara, Parlemen AS dengan gemilang menang telak 348-77 untuk menjungkalkan veto Obama. Sekretaris pers Gedung Putih, Josh Earnest menyebut keputusan senat dan parlemen tersebut adalah “keputusan yang paling memalukan sejak tahun 1983.”

Ironisnya, seminggu yang lalu, Senat AS telah memblokir proposal dari Senator Rand Paul dari Kentucky dan Christopher Murphy dari Connecticut yang akan menghentikan penjualan sebesar $ 1,15 miliar tank Abrams dan amunisi ke Riyadh.

Di satu keputusan seminggu yang lalu, Senat AS mendukung penjualan besar-besaran tank dan amunisi mutakhir AS kepada Saudi, barusan tiba tiba berbalik arah dengan menetapkan keputusan yang memaksa Gedung Putih untuk menerapkan Justice Against Sponsors of Terrorism Act (JASTA).

Ini seolah keputusan plin-plan yang mendukung penjualan senjata kepada negara yang diduga menjadi sponsor terorisme Global dalam peristiwa tragedi serangan teror mematikan pada 9/11 2001 silam. Kok bisa begitu?

Ini hanyalah karena pertimbangan optimalisai  keuntungan ekonomi sekaligus politik bagi setiap indovidu anggota senat dan parlemen. Menjual senjata adalah kelutusan eonomi, sementara mendukung JASTA adalah kemugkinan yang paling optimal untuk memuaskan konstituen, dan akhirnya akan memlilihknya kembali periode pemilihan anggota senat dan parlemen di masa yang akan datang.

Terus bagaimana dengan sikap Riyadh? Setelah perjanjian nuklir Iran, Riyadh sudah mencurigai dan kecewa berat dengan keputusan AS. Untuk saat ini, Riyadh sangat mungkin akan mulai berpikir bahwa pejabat AS sebagai sekelompok orang oportunis dan munafik. Ya nggak ada salahnya jika Riyadh berfikir seperti itu, lha wong buktinya sudah terjadi kok.

Sumber Gambar: ibtimes.com

 
loading...
 
KOMENTAR ANDA

TERPOPULER

Copyright © 2017 - Analisis.id

To Top